Libur tahun baru menjadi momen yang paling ditunggu sebagian besar orang, termasuk aku. Sudah lama aku merencanakan liburan bersama Adi yang saat ini sibuk bekerja sebagai fotografer profesional di sebuah vendor jasa foto di Bali. Kebetulan vendor tempat Adi bekerja cukup ternama sehingga tak heran kalau mereka tak pernah sepi pekerjaan. Otomatis mencari waktu libur panjang sangat sulit dilakukan. Sementara aku yang pekerja freelance begini waktu lowongnya bisa kapan saja, ya mesti nurut jadwal Si Pacar saja.

Akhirnya Adi mendapat waktu libur dari kantornya yakni di akhir tahun. Itu pun cuma 2 hari yaitu tgl 29-30 Desember 2016. Mau kemana cuma 2 hari? Kalau berlibur di Bali bosan dong (GAYA BANGET SIH) hahaha. Ya, bosan 'kan memang tinggal di Bali, pulau wisata terbaik kedua di dunia (nggak bosan ngulang kalimat ini). 

Setelah diskusi panjang kami menetapkan Banyuwangi sebagai tujuan kami. Alasannya dekat dan tidak memerlukan banyak uang untuk pergi ke sana. Biasanya kalau ke Banyuwangi dalam rangka numpang lewat aja jika mau jalan-jalan ke daerah lain di Pulau Jawa. Kali ini aku ingin mencoba untuk benar-benar mampir di Kabupaten dengan julukan "Sunrise of Java" itu.


Hari Pertama (29 Desember 2016)

Pukul 7 pagi Adi sudah duduk di teras rumahku. Rencananya kami akan menaiki moda transportasi sejuta umat di Bali yaitu sepeda motor. Asli, ini merupakan ide paling gila yang bisa aku pikirkan karena naik motor ke Amed saja sudah bikin bokong kebas. Apalagi ke Banyuwangi yang waktu tempuhnya dua kali amed. Tapi kami berdua betul-betul ingin menguji ketahanan bokong kami seberapa kuat ia bisa diandalkan, hahaha.

Pukul 07.30 WITA kami berangkat dan langsung mengarahkan kendaraan ke barat. Rumahku di Peguyangan memang dekat dengan daerah ibukota Badung dan juga Tabanan sehingga perjalanan kami jadi lebih dekat (ngaruh dikit doang tapi). 

Beruntung sekali cuaca sangat mendukung. Padahal hampir sepekan Denpasar selalu diguyur hujan. Sayangnya selama di perjalanan aku nggak sempat foto-foto. Konsentrasiku ditujukan untuk mengajak Adi mengobrol supaya dia tidak mengantuk selama membawa kendaraan.

Tiba di Gilimanuk kami mampir di warung makan muslim. Maunya kan mampir di Warung Men Tempeh yang fenomenal itu, hanya saja kami tidak tahu arah pasti ke lokasi tersebut dan kami juga sudah kadung kelaparan. Belum sampai tujuan saja kami sudah menghamburkan Rp 42.000 untuk makan.

Kami melanjutkan perjalanan ke pelabuhan Gilimanuk. Ini pertama kalinya aku masuk ke pelabuhan dengan mengendarai motor. Setelah membayar karcis masuk seharga Rp 2.000, kami langsung menuju loket pembelian tiket kapal. Sebelumnya kami harus melewati pengecekan oleh petugas kepolisian meliputi kelengkapan surat-surat berkendara. Kemudian kami mengisi formulir terlebih dahulu, berisi nama, nopol kendaraan, dan golongan kendaraan. Setelah itu barulah kami membayar tiket untuk kendaraan golongan II seharga Rp 22.000.

Sesampainya di dekat dermaga, kami harus menunggu sebuah kapal yang merapat dan menurunkan penumpang. Setelah itu giliran kami untuk naik.

Perjalanan menyeberangi Selat Bali sebetulnya hanya membutuhkan waktu 45 menit saja. Namun dikarenakan aktifitas di Pelabuhan Ketapang cukup padat, kapal yang kami tumpangi mesti mengantre untuk merapat ke dermaga.

Setelah turun dari kapal dan keluar dari area pelabuhan, kami langsung mengendarai motor kami menuju hotel yang ada di pusat Kota Banyuwangi. Sekitar 15 menit perjalanan kami pun sampai di hotel, itu pun sebelumnya diselingi acara nyasar karena cukup bingung dengan arahan di google maps. 

Hotel tempat kami menginap bernama Hotel Selamet dan Resto di Jl. Kapten Pierre Tendean No.89 Banyuwangi. Jauh-jauh hari aku sudah memesan kamar di hotel ini lewat situs booking online Traveloka. Aku sangat merekomendasikan pemesanan hotel lewat situs ini, sebab cara pembayarannya sangat mudah yaitu bisa lewat transfer via ATM atau juga bisa mobile banking. 




Tiba di hotel ternyata baru pukul setengah satu siang, "wah cuma setengah jam dari waktu seharusnya untuk check in", begitu pikirku. Seharusnya kamar sudah siap dong. Ternyata jam tanganku masih berpatokan pada waktu WITA. Itu berarti di Banyuwangi baru setengah 12. Meskipun kami check in lebih awal, staf hotel Selamet dengan sigap mempersiapkan kamar sehingga nggak perlu waktu lama untuk tiba di kamar.

Kami langsung beristirahat mengingat perjalanan yang kami lalui cukup panjang apalagi mengendarai sepeda motor. Sorenya kami terbangun ternyata di luar sedang hujan deras. Kandas sudah rencana kami untuk pergi ke Baluran. Bayangan berfoto di tengah savana nan luas harus pupus disapu rintik air hujan.

Rasa lapar kembali melanda, membuat kami terpaksa memesan makanan di restoran yang ada di lantai satu. Bisa disebut terpaksa karena menu makanannya sendiri benar-benar mainstream. Seperti nasi goreng, kwetiau, sop buntut, dll. Padahal harapanku ke Banyuwangi bisa mencicipi yang namanya Pecel Rawon dan Nasi Tempong.



Setelah makan, aku segera mandi dan bersiap untuk pergi jalan-jalan. Fasilitas kamar hotel ini benar-benar membuatku terkesan. Kamar mandinya bersih dan tidak berbau, biasanya masalah seperti ini ada di beberapa review pengunjung yang aku baca di hotel-hotel lainnya. 
Kamarnya pun cukup nyaman dilengkapi dengan pendingin ruangan serta televisi layar datar. Tarifnya pun tidak begitu mahal meskipun sedang dalam masa high season

Malamnya kami mampir ke Mall Roxy. Cukup mudah mengakses mall tersebut karena berada di jalan utama Kota Banyuwangi. Di sana aku berbelanja beberapa pakaian kemudian membantu Adi memilih pakaian. Semua pakaian yang telah kami pilih dimasukkan ke dalam sebuah tas belanja sementara. 

Selama memilih-milih baju, aku melihat beberapa kasir diletakkan di berbagai sudut mall. Belakangan aku baru tahu mereka bukan kasir, melainkan petugas pembuat nota. Lucunya aku baru mengetahuinya setelah capek-capek mengantri di kasir yang sebenarnya. Petugas kasir mengatakan bahwa aku harus memperoleh nota sesuai spesifikasi pakaian yang aku beli. Misal atasan dan bawahan, tempat penukaran notanya tidak di satu tempat. Sehingga aku harus pergi ke tempat penukaran nota baju atasan, kemudian ke mbak-mbak petugas pembuat nota untuk produk celana. Itupun baru pakaian yang kubeli, belum lagi harus mendapatkan nota belanjaan yang Adi beli, tempatnya di belahan dunia lain jauhnya dari zona pakaian wanita.

Itu adalah pengalaman belanja super melelahkan karena waktu yang kami habiskan hanya berkeliling untuk mendapat nota. Sesampainya di kasir lagi-lagi kami harus mengantri dengan menenteng belanjaan kami. Benar-benar tidak praktis. Salahku juga tidak bertanya pada para mbak-mbak yang ada di seputaran store tersebut. Hal itu juga tidak kulakukan karena para mbak-mbak tersebut rata-rata menghabiskan waktu mengobrol dengan sesama pegawai. Seharusnya akan lebih praktis kalau mereka jemput bola mendatangi kami sambil membawa nota, bukan? 

Setelah keluar dari Mall Roxy, kami hendak mencari makan di sepanjang jalan. Kami kemudian berhenti di sebuah warung lesehan di pinggir jalan. Menu makanan yang kami nikmati saat itu hampir sama dengan lalapan yang biasa kami makan di Bali. Perbedaannya yang kami temui di Banyuwangi ada di ukuran daging yang lebih besar dan sambal yang lebih pedas.

Setelah kenyang, kami melanjutkan lagi perjalanan berkeliling Kota Banyuwangi. Tidak lama perjalanan kami sebab rintik hujan mulai turun. Kami segera kembali ke hotel dan langsung beristirahat.

Hari Kedua (30 Desember 2016)

Mau tidur di mana pun, aku selalu bangun agak siang. Pukul 09.00 pagi aku terbangun dan segera mandi. Aku mengajak Adi untuk ikut turun menuju restoran hotel. Voucher menginap yang kami pesan sudah termasuk biaya sarapan sehingga kami tidak perlu mengeluarkan uang lagi untuk makan. 

Menu makan pagi disajikan prasmanan, hanya saja variasi menunya sangat terbatas (biasanya prasmanan di nikahan teman bisa bikin pusing sewaktu mengambil saking banyak pilihannya). Tapi dari segi rasa makanan cukup lezat (gratisan yaa dilahap saja, hihi). 

Pukul 10 kami meninggalkan restoran. Kami segera berkemas untuk check out. Namun sebelumnya aku membiarkan Adi istirahat kembali karena sebentar lagi kami akan memulai sebuah perjalanan panjang lagi.

Pukul 12 tepat kami ke resepsionis untuk check out. Sebelum ke pelabuhan, aku mengajak Adi untuk mampir di sebuah tempat makan. Aku tidak mau pulang membawa kekecewaan karena belum sempat mencicipi satu makanan khas Banyuwangi yang sangat ingin aku coba. Jadilah kami mampir ke Warung Pecel Ayu yang berada di Jalan Laksa Adi Sucipto. 

Di tempat ini kami memesan Pecel Rawon. Dalam satu piring ada nasi hangat dan sayur yang disiram kuah rawon. Kemudian diberi sambal pecel dan topping lainnya yaitu : paru, peyek udang, peyek kacang, ragi kelapa, tempe bacem, dan sambal. Rumah Makan Pecel Ayu ini memang cukup terkenal pecel rawonnya, terbukti tempatnya yang cukup ramai dikunjungi warga lokal maupun wisatawan kaya aku (ciyeee wisatawan).

1 porsi nasi pecel rawon plus es jeruk totalnya Rp 23ribu. Harga yang lumayan mahal ya? Aku pikir seporsinya hanya 15ribuan, hehe... 

Namun untuk masalah rasa, harga semahal apapun akan pantas. Aku pun sampai menghabiskan seluruh komponen makanan yang ada di atas piring, berikut dengan kuahnya. 

Perut kenyang hati pun senang. Perjalanan pun bisa dilakukan dengan nyaman. Sayangnya rintik hujan kembali turun, membuat kami harus memakai jas hujan. 

Sesampai di pelabuhan kami langsung membeli tiket kapal kemudian menunggu di dermaga. Tidak menunggu lama kami langsung masuk ke kapal. Saat itu ada insiden dimana banyak kendaraan yang terjatuh di dermaga akibat lantai yang licin. Untung saja Adi tidak memacu kendaraannya pada kecepatan tinggi. Sehingga kami tidak ikut terjatuh.

Singkat cerita kami sampai di Bali pukul setengah empat sore. Kami memacu kendaraan sampai ke Denpasar dan tiba di rumahku setengah 7 malam. 

Demikian pengalaman liburan super singkatku ke Banyuwangi. Memang sih tidak ada tempat yang spesial kukunjungi. Juga tidak banyak foto yang kuabadikan selama berlibur sebab aku menikmati liburanku dengan sebaik-baiknya.

3 Comments

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  2. lewat banyuwangi berarti lewat Bali barat mas. dari sana bisa ke buleleng bali utara atau bali tengah ke tabanan. mantap perjalannya mas.

    salam
    rental hiace di Bali

    ReplyDelete

Senang sekali kamu bisa mampir ke postinganku, tapi jangan lupa tingggalkan jejak komentar di bawah ya :)