Sumber Gambar : google.com

Sekitar dua tahun lalu ketika aku masih meluangkan 100% waktuku untuk dunia fotografi, aku sering dihadapkan pada sebuah pertanyaan tentang kamera apa yang paling bagus. Umumnya pertanyaan yang dilontarkan seperti ini : "Mana sih yang paling bagus, Nikon atau Canon?". Well, sebenarnya di dunia ini ada beberapa brand kamera lainnya tapi entah kenapa dua merk di atas selalu diadu (atau memang kenyataannya mereka selalu berlomba untuk jadi yang terbaik). Macam Ke ef sih versus Mekdi atau persaingan indomaret dengan alfamart.

Kalau sudah ditodong pertanyaan macem begitu, aku bakal jawab : "I think, Nikon is a good one. Soalne aku make yang onoh udah bertahun-tahun." Seharusnya sih itu jawaban yang cukup memuaskan yaaah. Tapi pernyataan balik berikutnya yang sering aku denger dari si penanya, (yang bikin aku dongkol) adalah : "Kata temenku Canon yang bagus. Gimana sih!"



Yak. Rasanya pengen nyemilin esedo deh denger jawaban gitu. Itu tuh sama aja kaya KAMU ditanya, mana bagusan : Iphone apa Samsung? Yelah bro, kalau salah satunya emang bagus, kenapa yang lainnya masih tetep laku di pasaran. Make sense nggak sih?

Sekarang balik ke pendapat pribadiku. Yah, ketika kamu ingin membeli sesuatu, katakanlah dalam kasus ini ingin beli kamera, sesuaikanlah dengan kemampuanmu dulu. Misalnya saja budget, dengan uang kamu punya kira-kira kamu bisa beli kamera apa sih. Di dalam dunia per kameraan DSLR, kamera itu diklasifikasikan berdasarkan kelompok penggunanya : new entry atau pemula, semi profesional, dan profesional. Sudah pasti harga mereka pun disesuaikan dengan level si kamera, makin canggih - makin mahal. Itu udah hukum alam bro. Jadi kalau ditanya kamera apa yang paling bagus, ya jelas aja yang paling mahal, ya nggak sih? Hehe *ketawa pahit menerima kenyataan*

Masalahnya adalah, gimana kalau kemampuanmu tidak bisa menjangkau "yang paling bagus" itu? Ya, sebagai manusia yang berakal, seharusnya kreatifitas kita nggak boleh berhenti begitu saja hanya karena kita terbentur pada sebuah keterbatasan. Manfaatkan apa yang kamu punya saja.

Ngevlog

Yeah akhirnya masuk ke topik yang kamu tunggu-tunggu. Pasti di antara kalian sering banget kepo lalu browsing tentang gimana caranya sih nge-vlog. Atau gimana sih caranya bikin video mekap-mekap kek di youtube gitu, gimana kak? Plis jawab kak! KAAAK!

Menurutku ya, bikin video yang berisi orang monolog dan diam di satu tempat saja kaya video beauty vlogger itu SANGAT GAMPANG! Kenapa? Dibandingkan gaya sinematografi lainnya, vlog semacam itu tidak memerlukan banyak shoot, biasanya kamu cuma perlu gambar medium shoot dari badan atas sampai kepala. Kadang beberapa kali close up kaya ke mata, bibir, atau daerah lainnya biar tampilan visualnya lebih bervariasi. Nggak ribet saudara-saudara.

Udah yakin kan bikin vlog itu nggak susah? Sekarang kita masuk ke tahap selanjutnya yaitu persiapan alat. Tentu saja kamu perlu kamera untuk merekam aktifitasmu sesuai tema video yang kamu buat. Beruntunglah kamu-kamu yang punya media perekaman seperti kamera DSLR, mirorless, atau kamera pocket sekalipun. Lalu,bagaimana kalau kamu nggak punya semua itu?

Tenang saja, kamu yang hanya punya smartphone pun bisa untuk ikutan demam ngevlog. Kemajuan teknologi saat ini sangat membantu para produsen smartphone untuk mengeluarkan produk-produk canggih. Saat ini alat komunikasi mobile tersebut sudah dilengkapi vitur kamera yang nggak kalah dengan kamera sesungguhnya.

Karena itu, aku mencoba bikin satu project video yang menggunakan smartphone (kita sebut hp aja gimana?). Dari proses recording sampai editting aku bakal memanfaatkan hp yang udah lamaaaa banget aku pake yaitu : Lenovo A6000.


Perlu dipahami ini bukan tulisan yang mengarah pada promosi produk, jadi apa pun merk hp yang kamu punya bisa kamu pakai asalkan ada vitur kameranya.

Aplikasi Third-Party
Ngerasa nggak sih, kamera bawaan hp itu outputnya sering burem-burem ga jelas. Aku pun mengalami hal yang sama. Kamera utama Lenovo yang ku punya hanya berukuran 8 mp sedangkan kamera depannya cuma 2 mp. Jelas kalah sama hp-nya dedek-dedek emesh jaman sekarang, hiks. Tapi jangan sedih gesss, karena udah ada aplikasi tambahan yang bisa kamu download di palystore.

Macem-macem jenisnya yang kamu bisa pilih. Aku rekomendasikan apk yang namanya Cinema FV-5 Lite karena yang aku lihat dari review-reviewnya cukup bagus. Katanya kalau hp bawaanmu memiliki kualitas kamera 13 mp maka kamu bisa menghasilkan video HD setara DSLR! Wow!

Gitu sih katanya, karena aku belom coba. Heheee

Aku sendiri sudah terlanjur download aplikasi HD Kamera Ultimate. Benar saja, hasil rekaman yang dihasilkan melalui apk ini menghasilkan gambar dengan kualitas lebih jernih dari vitur bawaan hp itu sendiri. Mungkin saja aplikasi HD Kamera Ultimate ini hanya memaksimalkan kemampuan terbaik dari kamera kita sehingga hasil yang dikeluarkan menjadi lebih baik ketimbang vitur kamera orinya.


Pencahayaan
Langkah selanjutnya tentu saja : mulai merekam. Jika kamu ingin membuat video tutorial make up, kamu perlu sebuah penyangga untuk meletakkan hp kamu. Ayo perhatiin lagi barang apa saja di sekitar rumahmu yang bisa dijadikan tempat hpmu bersandar. Aku sendiri bisa manfaat macam-macam, mulai dari storage make up, tumpukan buku-buku, atau di tas. Kalau kamu punya alat semacam tripod untuk hp itu lebih bagus lagi.

Agar hasil video kamu lebih yahud, pikirkan untuk mencari tempat dengan cahaya yang maksimal. Cari sebuah tempat di rumah kamu yang kena cahaya terang baik itu dari matahari maupun lampu.

Nah aku sendiri pakai lampu tambahan berupa lampu neon biasa yang bentuknya bulat. Walaupun ga bisa kasih efek kaya ring light yang asli tapi cahaya dari lampu 20 watt ini lumayan menunjang untuk perekaman video di dalam ruangan. Lampu ini aku beli di toko listrik, lampu plus dudukannya aku beli 65ribu aja.


Nah yang di belakang silver-silver itu apa sih? Nah karena lampunya ini bersifat berpendar ke segala arah, maka kita harus memantulkan cahaya lampu itu hanya ke satu arah yakni ke objek yang mau direkam. Caranya adalah dengan membuat reflektor yang bisa dipasang di belakang lampu sehingga cahaya fokus mengarah ke depan. Refektor ini bisa kamu buat dari aluminium foil yang telah dibikin lecek terlebih dahulu kemudian tempel ke karton. Simpel!



Sumber Gambar : youthmanual.com

Selanjutnya, masuk ke tahap take video. Pastikan juga kamu memilih background yang tepat untuk pengambilan gambar. Sebaiknya jangan pilih background yang ramai karena menurutku background macem begitu hanya akan membuat penonton videomu salah fokus. Kecuali kamu mau bikin video room tour atau vlog jalan-jalan ke suatu tempat yang memang perlu memperlihatkan visual lingkungan sekitarmu.

Oke sampai sini tentu kamu sudah nggak sabar untuk memulai. Oiya perlu atau nggak sih skrip itu? Ya tergantung kamu sih. Kalau kamu tipe orang yang "cerewet" dan mudah beradaptasi di depan kamera, keberadaan skrip nggak penting-penting amat. Kalau kamu masih kagok yah baca skrip juga nggak apa. Nggak ngomong pun nggak masalah, karena kamu bisa mengisi voice over untuk video kamu.

Untuk tahap selanjutnya yaitu editting video vlog di hp, bisa kamu cek di postingan aku selanjutnya >> di sini

2 Comments

  1. Suka nih sama tipsnya. Aku juga lagi cari info sama inspirasi buat ngevlog hehe

    www.extraodiary.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Inez mah udah senior di dunia per-vloggan hehe...

      Thankyou uda mampir nez :*

      Delete

Senang sekali kamu bisa mampir ke postinganku, tapi jangan lupa tingggalkan jejak komentar di bawah ya :)