Drama Korea kerajaan dan Lee Seung Gi adalah perpaduan epik, menurut aku yang mengidolakan aktor Korea Selatan itu. Sejak kemunculan Lee Seung Gi dalam drama romansa "My Girlfriend is Gumiho" lantas dilanjut ke drama series "King 2 Heart", aku makin jatuh cinta sama oppa ini. Padahal bisa dibilang aku bukan K-Popers dan nggak terlalu minat sama artis-artisnya. Lebih tertarik sama film, drama, sama makanannya aja sih. Eh, sama variety shownya juga (lho kok banyak???!)

Terus terang waktu kemunculan film ini aku nggak terlalu minat pada awalnya. Selain karena Lee Seung Gi- oppa, nggak ada hal lain yang bikin aku excited nontonnya. 

Film ini mengisahkan seorang putri raja, Princess Song Hwa (diperankan oleh Shim Eun-Kyung) yang akan dinikahkan oleh ayahnya, raja dari dinasti Joseon pada 1753 (diperankan oleh Kim Sang-Kyung). Karena Ongju-Mama, sebutan untuk Sang Putri, adalah keturunan raja, ia mendapat hak istimewa untuk memilih pasangan. 


Putri pakai cadar untuk menangkal kesialan


Eits, tunggu dulu. Bukan dirinya yang akan memilih, melainkan melalui sebuah sayembara yang akan menyaring semua kandidat dari seluruh negeri. Sebenarnya, para lelaki ini enggan kok menikahi Sang Putri. Lah? Kok dapat putri raja yang cantik, nggak mau sih? 

Ceritanya, Ongju-Mama dikatakan memiliki "weton" (ramalan hari kelahiran) yang super buruk. Saking buruknya, dia dikatakan bisa membawa sial bagi orang-orang di sekitarnya. Namun karena kehadiran dia pula, ayahnya yang sempat sakit keras akhirnya bisa sembuh.

Baca Juga : Sinopsis Film Korea Komedi "Hello Ghost"

Ketika mengumumkan pernikahan putrinya, Sang Raja berjanji akan memberikan kekayaan dan kedudukan pada menantunya kelak. Itulah mengapa para lelaki di seluruh kerajaan berebut ingin menjadi buma, menantu lelaki raja. Apalagi krisis ekonomi sedang melanda disebabkan oleh kemarau panjang. membuat orang-orang nekat menikahi putri yang membawa kesialan itu.

Singkat cerita, didapatlah empat kandidat pria yang akan memperebutkan kedudukan sebagai menantu raja. Peran Lee Seung Gi di film ini adalah sebagai pegawai istana Seo Do Yoon yang bertugas membaca ramalan jodoh antara putri dan empat pria tersebut. 


Kandidat lagi satu tereleminasi. Voting smsnya terendah. Yeaah.


Ramalan atau Gung Hab (seperti judulnya dalam versi Korea) ini sangat penting di masa itu untuk menunjukkan kecocokan calon pasangan. Sehingga apa yang akan dikatakan juru ramal terdengar sangat penting bagi semua orang.

Konflik utama di film ini adalah mengenai kekepoan ongju-mama terhadap para calon suaminya. Dia sampai nekat menyamar ke luar istana (yang mana kalau ketahuan bisa dipecat jadi anak sama Si Raja) demi menyelidiki pria pujaan hatinya itu. Pada bagian ini pula Ongju-mama akan sering ketemu sama Seo Do Yoon secara tidak sengaja.


Duh, tante bergejolaque nih.



Putri menyamar jadi... I don't know antara bangau atau bebek.

The Princess and The Matchmaker merupakan film yang mengabungkan unsur sejarah, drama percintaan, astrologi dan komedi. Tapiii nih tapiii... Menurutku untuk unsur komedi, terasa agak nanggung. Kadang ada adegan yang maksudnya humor kali ya, tapi aku cuma nyengir kecil.

Kalau dibilang romansa, romantisnya itu kurang dapet. Secara, kedua tokoh utama baru lope-lopean di akhir film.

Shim Eun-Kyung membawakan karakter seorang putri yang naif soal percintaan dengan sangat apik. Mungkin dia nggak secantik mbak Yoona SNSD yaaa tapi kok rasanya cocok aja gitu berdampingan sama Lee Seung Gi.




Sedangkan oppa Lee tetep seperti biasa, tampil charming. Di film ini dia karakternya agak cool dan berwibawa. Nggak petakilan kaya di My Girlfriend is Gumiho. Jadi sukaaaak lihatnya.

Akting para bintang lainnya juga nggak kalah memukau. Sebut saja yang memerankan princess Song Hwa sewaktu kecil. Anaknya imut-imut banget. Nggak ngerti deh, kayanya kalau anak kecil dipakein Hanbook kok ngegemesin ya. 

Nah, konspirasi ala ala drama kerajaan juga ada di sini. Akan ada banyak tokoh antagonis yang punya tujuan sama. Tapi nggak selebay cita-cita pengen menggulingkan raja sih, di sini rajanya kelihatan punya power gitu. 


Akan ada babang ini yang buka-bukan. AW AW AW!


Dari segi sinematografi aing nggak terlalu banyak komen yaa soalnya bukan ranah eike. Cuma kalau soal color grading, film ini juara. Ya, gimana nggak bagus, perode post productionnya aja sampai dua tahun. Syutingnya udah dari 2015, waktu babang Lee Seung Gi belum ikut wajib militer.

Cuma ya, kalau diinget-inget ini jaman so old banget, jamannya VOC bahkan belum sampai ke Indonesia, tampilan setting tempatnya kok agak modern gitu ya. Ku juga tydak tahu bagaimana bentuk dan warna hanbook di masa itu tapi rasanya nggak mungkin kan gonjreng dan bagus kaya di film.

Jadi kesimpulannya, film ini layak tonton nggak?
Menurut aku : Yap, film besutan sutradara Hong Chan-Pyo lewat rumah produksi CJ Entertaiment ini layak untuk ditonton. Cocok buat kamu yang doyan drama kerajaan dan segala konflik internalnya.

Segitu dulu review aku. Mon Maap yaaa kalau obrolannya kurang runtun. Terima kasih sudah membaca sampai habis, SALAM TEOPOKI !

0 Comments